皆さんようこそ。

ようこそ。これは私のボログ。ENJOYしましょう!!

Dan Presiden Pilihanmu adalah?

gravatar

Hal yang tidak disukai pengendara namun tak berani mengungkapkannya

Hi guys! Pernah nggak sewaktu kalian sedang menggunakan kendaraan ada beberapa hal yang tidak kalian sukai, tapi nggak berani menegur orang tersebut. Hm…
Giri sudah merangkum beberapa hal yang patut untuk dibaca bareng-bareng dan patut untuk direnungi tentang perlakuan yang kurang begitu menyenangkan untuk para pengguna kendaraan di jalan. Ya.. Giri juga ngaku kok beberapa hal pernah Giri lakukan, hehehe.. so… let’s begin!



1. Klakson itu tidak sopan
a. Klakson diciptakan untuk memperingatkan seseorang akan sesuatu. Hm, namun pada garis besarnya dapat disimpulkan bahwa klakson itu menyuruh untuk “minggir!”. Ya… dalam beberapa kasus memang sangat menolong, misalnya bila ada truk tronton gede di belakang kita yang hamper menyerempet kita, terus bapak-bapak di belakang mengklaksonin. Hm.. namun dalam beberapa kondisi penggunaan klakson jadi berlebihan. Misalnya di lampu Lantas. Lampu baru aja menyala jadi ijo, eh, ada aja yang di belakang menyuruh supaya cepet-cepet jalan. Duh… Oh iya, tahu nggak, kalau di Jepang sangat susah lo untuk mencari suara klakson, bener deh! Sekalipun itu Tokyo. Kalau kamu mau mencari suara klakson di Jepang, nyeberang jalan aja waktu jalanan rame, hehehe…

2. Lampu jarak jauh itu tidak sopan
a. “Aw! Silau!” itu reaksi yang Giri dapet waktu ngelihat orang menggunakan lampu jarak jauh. Guna lampu jarak jauh itu… ya untuk menyorot di jarak jauh, hehehe.. tapi beberapa kondisi juga menyatakan lampu ini digunakan untuk peringatan. Giri sering naik mobil travel untuk pergi ke luar kota. Nah, waktu si mobil mau mendahului, tiba-tiba ada mobil lain di depan, mobil di depan langsung menyalakan lampunya. Mungkin maknanya sama kayak kita lagi meloto gitu kali ya? Nah, itu hal yang baiknya, tapi, jangan, jangan pernah, jangan sama sekali pernah menggunakan lampu jarak jauh saat di dalam kota, apalagi rame, wah!

3. Menyalip itu tidak sopan
a. Yang satu ini nggak usah dipungkiri lagi, terlalu tidak sopan! Bahayanya yang disalip bisa jatuh karena tersenggol, atau karena gugup dan kaget.

4. Suara kendaraan yang meraung itu tidak sopan
a. “Abad gene gak punya motor suara gaoel?!? Payah lu!!” mungkin itu maksud dari pemilik motor dengan suara yang “brum brum!!!” dan “ngreeeng!!! Ngreenngg!!” di jalan. Mereka menganggap motor dengan suara yang meraung, membahana, menggema itu sangat keren karena menarik perhatian. Menarik perhatiannya sih iya, tapi kalau keren? Hm…. Tunggu dulu ya… Giri sendiri sih menganggap itu nggak keren, kerenan juga motor yang knalpotnya bisa siul-siul lagu “Bujangan”, hehehe

5. Asap knalpot itu tidak sopan
a. Sekarang mungkin sudah susah menemukan kendaraan dengan asap knalpot yang belepotan kesana kemari. Tapi who knows, bahkan seminggu sekali Giri bisa menemuinya di jalan. Yap, kendaraan dengan asap knalpot itu sudah jelas ngeganggu banget. Selain bau dan pandangan mata tertutup, itu juga merupakan polusi udara yang tidak baik untuk kesehatan, betul?

6. Membuang sampah dari kendaraan itu tidak sopan
a. Uhm, hal yang satu ini sudah sangat, sangat, sangat sering Giri lihat (apalagi kalau di Indonesia, hehehe). Beberapa orang bahkan sangat semangat membuang sampah dari kendaraan, kayak keeper ngelempar bola gitu… bahkan ada lo sampe dinding orang jebol gara-gara dilemparin sampah dari kendaraan! (hehe, nggak, yang terakhir itu becanda). Well, yang satu ini jelas sangat tidak sopan, selain mengotori jalan, beberapa kasus juga menyatakan si sampah bisa nyasar ke pengendara lainnya. Oh iya, Giri punya pengalaman. Waktu masih bau kencur (sekarang bau jigong) dulu Giri dibonceng sama ibu. Tiba-tiba ada truk yang menyusul dari belakang, wess!! Entah kenapa saat itu dari dalam truk ada melambai-lambai tangan gitu, posisi tangannya kayak sedang menyentil sesuatu gitu deh… 2 detik kemudian, thacckk!!! Pipi Giri kena sesuatu, sakit banget!! Pas Giri raba-raba gitu kok lengket-lengket nggak enak gimana~~ gitu, warnanya juga abu-abu kelam aneh gitu. Selidik punya selidik ternyata itu upil!! Yeakh!!! Nah.. sampah yang satu ini sih bukan sampah biasa, tapi sama aja harus menyimpannya dengan benar..

7. Merokok di kendaraan itu tidak sopan
a. Hal yang ini mirip-mirip seperti asap kendaraan bermotor. Ngepul-ngepul rokok di jalan emang keren dan asyik, tapi kasihan kan orang yang dibelakangnya? Bisa jadi perokok pasif berjalan tuh! Iya nggak apa-apa kalau yang di belakangnya hobi ngerokok juga, kalau ternyata alergi terus asma gara-gara rokok? Duh!!! O’iya, bahkan Giri sering banget nemuin kasus abu rokoknya berterbangan nggak karuan, duh! Kalau sudah gini jangan buka mulut deh, hehehe…

8. Tidak membiarkan orang menyeberang itu tidak sopan
a. Pernah menunggu sampai beberapa menit untuk menyeberang ke sisi lain jalan karena tidak ada orang yang mau mengalah? Hohoho… seperti itulah…

9. Pengendara yang tidak memakai helm itu tidak sopan
a. M.. helm kali ini identik dengan orang yang menghormati orang lain. Kalau di jalan nggak pake helm, seolah tuh orang cuma bakalan ngacau di jalan dan maunya kebut-kebutan melulu (apalagi kalau udah ada polisi di perempatan, duh! Berabe deh!).

10. Tidak menggunakan lampu sein itu tidak sopan
a. Di daerah tempat Giri tinggal ini lampu sein itu kayak sudah merupakan barang estetik saja dari kendaraan. Fungsionalnya sudah nggak terlalu diperhatikan. Kalau misalnya mau nyeberang jalan jarang, ulangi lagi ya, jarang, jarang, jaraaaaang banget orang make lampu sein. Hehehe.. Giri juga sering lo, abis sering kelupaan, apalagi kelupaan mematikan, hehehe… padahal lampu sein ini penting banget untuk pengguna jalan lain agar mempersilahkan kita berbelok.

11. Tidak berhenti saat lampu Lantas merah itu tidak sopan.
a. Mirip-mirip dengan menyalip juga, dan sangat melanggar hukum (cieh.. pake hukum-hukuman segala, hehehe…). Mungkin kalau tergesa-gesa Giri juga sering melakukan hal ini (sst!! Diem aja ya!), padahal ini berbahaya banget!! Bisa-bisa tertabrak pengguna jalan lain. Fiuh..
Demikian hal—hal yang menurut para pengendara tidak sopan. Fiuh.. capek juga ngetik sebanyak itu, hehehe… semoga berguna untuk pengembangan manajemen berkendara di jalan, amin….


Read More......
gravatar

Pengumuman OSN 2009 Sampit

Sampit berjaya!! hore!!!

langsung saja ya, berikut daftar peserta OSP yang masuk ke tingkat OSN yang diselenggarakan pada tanggal
3-9 Agustus 2009 di DKI Jakarta (bukan Bandung! Beuh!!!)

Matematika
PARARAWENDY INDARJO -- SMAN 1 SAMPIT KOTIM KALIMANTAN TENGAH
Biologi
ACHMAD BANU MUSTOFA -- SMAN 1 SAMPIT KOTIM KALIMANTAN TENGAH
Ekonomi
NOVANDYA NOOR -- SMAN 2 SAMPIT KOTIM KALIMANTAN TENGAH
Komputer
PATRICIUS ONGGARA C -- SMA KATOLIK TARUNA JAYA KOTIM KALIMANTAN TENGAH

Selamat kepada semua pemenang! Go Get Gold!!!

Read More......
gravatar

あ~!!怖い!!!

今、MOS オリエンテション 学生です。

あ!!!私はMOSのリデルです!!!


Read More......
gravatar

Dan ulangan telah berakhir..

Alhamdulillah...

Itu kata yang pertama kali aku katakan setelah semua pekerjaan ini selesai. Wajahku yang murung tertunduk dan sayu tiba-tiba..

MENERIAKKAN KEBEBASAN!!! WUAHAHAHAHA!!

Hm.. akhirnya bisa blogging lagi deh!
Oh iya kawan, nanti saya mau bikin sebuah blog (lagi), dan mudah-mudahan terawat, amin.... blog nya itu menceritakan tentang begini begini, begitu, begini begini, gitu begini.... gitu...
tunggu aja deh... hehehehe....

btw, nanti jadi panitia mos nih, terus disuruh ngedesain bajunya, sekalian aja desainin logonya, hehehe...

ini dia.. mohon commentnya mas!

Read More......
gravatar

Maaf tidak update



Mohon maaf selama ini saya belum ada update. Selama 1 minggu ke depan saya akan menghadapi tes akhir semester, selama itu pula saya tidak dapat mengupdate blog ini. Mohon doanya ya!


-Giri

Read More......
gravatar

Wahyu Dona Pasa Sulendra


Nama lengkapnya Wahyu Dona Pasa Sulendra. Panggilan akrab dari cowok yang aktif di Indonesia Aikido Aikikai UGM ini adalah Dona. Mas Dona mulai mengenyam pendidikan dari TK Pertiwi Purwoharjo, dilanjutkan di SDN Purwoharjo 4, SLTP 1 Cluring, SMUN 1 Genteng. Dari friendsternya mas Dona juga bilang dia menyempatkan diri mendalami Hubungan Internasional di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Cowok yang berkerja di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta ini sampai sekarang masih aktif di dunia tulis menulis di blognya yang bertajuk DONLENON. Kamu bisa menyimak rangkaian kata-kata dari mas Dona di blognya yang sudah berumur kurang lebih 3 tahun di http://donlenon.blogspot.com

Dilihat dari blognya, mas Dona senang sekali menulis pengetahuan umum yang berhubungan dengan pekerjaannya. Misalnya saja ulasannya tentang barcode, pada postingan tersebut mas Dona menampilkan barcode pada buku sebagai primary photo nya, hm... sepertinya buku-buku tersebut adalah buku yang sedang didata oleh mas Dona... Selain pengetahuan umum, mas Dona juga seringkali menulis kehidupan sehari-harinya serta berbagai cerita-cerita unik dan berbagai hal lainnya (yang mas Dona anggap hanya sebagai hal-hal remeh), namun tetap dengan gaya bahasa yang mengalir dan segar (juga seringkali dengan kata-kata yang “blogger banget!”)

Menilai dari tulisan-tulisan yang dimatra oleh mas Dona, tidak dapat dielakkan lagi mas Dona sudah lama berkecimpung di dunia “persilatan kata”. Kata-kata yang digunakan halus dan sangat interaktif, namun diksi yang digunakan sangat tersusun rapi. Yuk kita simak tulisannya yang bertajuk “Oase Bernama Perpustakaan Desa” di http://donlenon.blogspot.com/2009/05/oase-bernama-perpustakaan-desa.html. Berikut sedikit kutipan dari artikel tersebut


Untuk menghindari kebosanan warga, pihak pengelola perpustakaan melakukan aktualisasi buku dengan menjalin kerja sama dengan perpustakaan di sekolah-sekolah sekitar dusun maupun perpustakaan keliling. Tidak kurang terdapat dua sekolah yang setiap minggunya rutin melakukan pinjam meminjam dengan perpustakaan ini. “Saat ini kami sudah melakukan kerja sama dengan Perpustakaan SDN Boto dan SDN Ngrojo. Tiap minggunya kami meminjam sekitar 20 buku baru yang yang sekiranya disukai anak-anak dan remaja setempat,” kata Dony.


Tuh kan, kalimat yang disusun mas Dona persis seperti koran-koran kelas nasional, keren ya?penggabungan kalimat-kalimat langsung dan tidak langsung, sampai penggunaan tanda baca, semuanya disusun dengan cermat! Psst.. usut punya usut ternyata mas Dona dulunya pernah berkerja di Jawa Pos dan TVRI Yogyakarta lo!

Kamu bisa melakukan kontak dengan mas Dona dengan berhubungan melewati facebooknya di http://www.facebook.com/people/Wahyu-Dona-Pasa-Sulendra/1102157560 atau mengirim e-mail ke donlenon@yahoo.com

O iya, kalau misalnya kamu bertandang ke Yogyakarta jangan lupa untuk bertandang ke penginapan milik mas Dona yang bernama Pondok Pakuncen Permai ya!




Mas Dona berhak menaruh badge ini di halaman pribadinya.


Read More......
gravatar

Wartawan Bodrek vs Citizen Journalist

Oleh : Muhibuddin

05-Mar-2008, 22:09:59 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Begitu mudahnya sekarang menjadi wartawan. Asal ada kemauan, saat itu juga bisa menyandang profesi wartawan. Apalagi, jika punya kesanggupan berburu berita yang bisa memasok ‘gizi' ke media yang menaunginya. Tak usah menunggu waktu, orang awam pun segera dibikinkan kartu pers untuk modal peliputan berita. Simpel sekali prosedurnya, bukan?

Tapi, tunggu dulu. Tak sembarang media pers segampang itu merekrut wartawan. Media-media besar dan mapan, umumnya sudah menerapkan standar profesional dalam rekruitmen wartawan. Bahkan dalam komunitas media pers kategori ini, untuk menjadi wartawan profesional prosedurnya justru tak kalah ketat dengan seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), misalnya.

Dari gambaran di atas, bisa dimaklumi kalau kemudian dalam dunia pers muncul perbedaan wartawan ke dalam tipologi ‘wartawan beneran' dan ‘wartawan bodrek'. Yang disebut terakhir, tak lain adalah orang-orang yang masuk ke habitat pers tapi sepak terjang jurnalistiknya justru banyak mencemari dunia pers itu sendiri.

Jurnalisme Kartu Pers

Keberadaan wartawan bodrek memang tak bisa dipandang sebelah mata. Sebab, faktanya, mereka juga berkalung kartu pers sebagai bukti fisik identitas diri seorang wartawan. Soal, apakah mereka produktif dalam menghasilkan karya jurnalistik atau tidak, itu menjadi urusan lain. Karena itulah, dari perspektif ini, rasanya sulit mencari alasan untuk tidak mengkategorikan mereka ke dalam komunitas wartawan.

Bondan Winarno pernah mengatakan, dari segi penampilan, tidak ada perbedaan nyata antara wartawan bodrek dengan wartawan beneran. Sebagai wartawan, wawasan mereka memang dangkal, karena tujuan utamanya memang semata bukan untuk kepentingan jurnalistik. Tetapi, tidak jarang dari mereka punya daya intuisi dan investigasi yang tajam (Republika, Minggu 22/5/2005).

Dalam menjalankan misi jurnalistiknya, wartawan bodrek biasanya berlindung di balik kartu pers resmi dari medianya maupun dari beragam organisasi profesi kewartawanan. Karenanya, mereka akhirnya lebih mengedepankan ideologi ‘jurnalisme kartu pers' ketimbang mengaktualisaikan jargon-jargon ideal jurnalism yang menjadi ruh dari media pers.

Di panggung pers nasional, ironi wartawan bodrek sebenarnya bukan cerita baru. Bukankah dari dulu sudah muncul sindiran adanya wartawan tanpa surat kabar (WTS) yang ulahnya seringkali mencemari intitusi pers? Hanya saja, kalau kini keberadaan wartawan bodrek kian menuai sorotan, itu barangkali karena jumlah ‘pasukan' mereka memang kian menjamur.

Diakui atau tidak, wartawan bodrek semakin bertambah subur seiring bergulirnya liberalisasi pers pasca reformasi 1998. Sejak itu, kontrol birokrasi terhadap keberadaan media pers begitu longgar. Dengan demikian, sebuah media pers bisa meluncur begitu saja tanpa harus lewat prosedur yang rumit. Berbarengan dengan itu, siapa pun seolah juga bisa masuk dalam komunitas pers. Siapa pun juga bisa membikin media sekalipun tanpa ditopang sumber dana dan sumberdaya manusia yang punya concern terhadap idealisme pers.

Konsekuensinya, bermunculanlah ‘wartawan karbitan' yang kinerja jurnalistiknya kadang jauh dari cita-cita ideal pers itu sendiri. Jangan heran kalau kemudian muncul media pers yang merekrut jajaran redaksi hingga wartawan secara serampangan. Kartu pers yang seharusnya diterbitkan secara ketat dan selektif, akhirnya ‘diobral' untuk membekali ‘pasukan' yang melakukan tugas jurnalistik di lapangan.

Jadilah, kartu pers menjadi segala-galanya. Status profesi wartawan, akhirnya cukup dilihat dan diukur dari parameter kepemilikan kartu pers. Dalam konteks ini, produktifitas karya jurnalistik menjadi tak begitu urgen. Salah-salah, wartawan yang produktif membuat karya jurnalistik justru dicap sebagai ‘wartawan liar' hanya karena mereka tak berkalung kartu pers.

Padahal, banyak di antara wartawan bodrek berkalung kartu pers yang sesungguhnya produktifitas karya jurnalistiknya masih layak dipertanyakan. Sebaliknya, mereka justru lebih memilih memanfaatkan kartu pers yang dikantonginya untuk kepentingan di luar tugas jurnalistik. Misalnya, kartu pers difungsikan sebagai kartu truf untuk melakukan tindak pemerasan dengan dalih memuat atau tidak memuat sebuah berita. Praktek kotor ala wartawan bodrek agaknya masih menjadi fenomena kelam dalam dunia pers nasional. Itulah sebabnya, kini media-media cetak maupun elektronik terang-terangan mengkomunikasikan ke khalayak bahwa wartawannya ‘diharamkan' menerima sesuatu pemberian dari nara sumber.

Tentu, persoalannya, terlalu naif jika nantinya institusi pers harus kehilangan kepercayaan publik hanya gara-gara merebaknya praktek-praktek kotor sebagaimana yang lazim dimainkan wartawan bodrek.

Citizen Journalist

Kini, jurnalisme era baru tiba. Berita di koran, majalah, radio, maupun televisi, tak lagi milik dan monopoli wartawan. Melalui citizen journalism (jurnalisme warga) yang menjadi genre baru dunia pers, siapapun bisa menjadi wartawan. Sekalipun tak berkalung kartu pers, pewarta warga ini mampu melakukan reportase, investigasi, menulis berita dan menerbitkannya melalui media-media berbasis citizen journalism.

Di dunia maya, citizen journalism sudah jauh berkembang sedemikian pesat. Banyak portal yang kini mengandalkan sajian tulisan, news dan foto-foto dari hasil reportase pewarta warga (citizen journalist).

Selain sebagai pensuplai tulisan, sekaligus, para pewarta warga ini juga berperan menjadi pembaca setia media-media berbasis citizen journalism itu.

Media berbasis warga yang dikelola secara profesional, kenyatannya juga tak kalah gengsi dengan ‘media konvensional' . Sebut saja, situs berbasis citizen journalism yang bermarkas di Seoul Korea Selatan, OhmyNews.com.

Dengan mengandalkan pewarta warga, situs ini telah berkembang pesat dengan 60.000 reporter warga yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Situs berita dan informasi ini dibaca tak kurang sekitar 750.000 pengguna setiap harinya (Pikiran Rakyat, 9/2/2007).

Di Indonesia, citizen journalism juga sudah bermunculan. Sebut saja, situs KabarIndonesia.com yang bermarkas di Netherland, Belanda. Dalam kurun waktu sekitar 15 bulan terakhir, situs yang popular dengan sebutan Harian Online KabarIndonesia (HOKI) itu telah mempunyai sekitar 3.000 reporter warga. Mereka itulah yang selama ini menjadi pensuplai tulisan sekaligus juga jadi pembacanya.

Yang menarik lagi, dalam penerbitan edisi cetak, koran-koran terkemuka nasional kini juga mulai merintis rubrik yang diperuntukkan bagi para citizen journalist. Itu artinya, keberadaan pewarta warga ke depan bisa bertambah menggurita. Nah, jika praktek citizen journalism sudah melembaga, jangan heran seandainya kelak banyak orang tak berkalung kartu pers, tapi mereka bisa menghasilkan karya-karya jurnalistik.

Ini akan berbanding terbalik dengan fenomena ‘wartawan bodrek' yang berkalung kartu pers, tapi mereka miskin karya jurnalistik.

Dalam catatan Nasihin Masha, citizen journalism lahir sebagai sebuah perlawanan. Yakni, perlawanan terhadap hegemoni dalam merumuskan dan memaknai kebenaran. Perlawanan terhadap dominasi informasi oleh elite masyarakat. Akhirnya, perlawanan terhadap tatanan peradaban yang makin impersonal (Republika, Rabu, 7/11/2007).

Tak salah memang. Sebab, media pers yang sering disebut-sebut sebagai pilar keempat demokrasi (fourth estate) setelah eksekutif, yudikatif dan legislatif, realitasnya kadang menampakkan wajah yang jauh dari publik yang jadi penopangnya. Ketika pers sudah melembaga di bawah naungan para pemilik modal, bukan tidak mungkin pers kehilangan ‘daya jotos' dalam menyuarakan aspirasi yang berpihak pada kepentingan publik.

Karena itulah, munculnya citizen journalism menjadi urgen untuk membangkitkan kembali ghiroh pers sebagai penyambung lidah publik yang kadang kerap menjadi korban hegemoni kekuasaan. Sebab, betapapun, merebaknya komunitas citizen journalism adalah sebuah fenomena yang tak bisa dipandang sebelah mata.


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

Read More......
gravatar

Yohanes Ace Raharjo



Namanya Yohanes Ace Raharjo. Dia memiliki nickname sebagai Ace. Cowok kelahiran tanggal 3 Agustus 1989 ini mengelola blognya yang berjudul “Ace Forever”. Alamat blog yang dikelolanya adalah http://ace-forever.blogspot.com.

Keseluruhan dari blog yang dikelolanya menceritakan tentang kehidupan dan kegiatan sehari-hari Ace. Beberapa juga menceritakan tentang hobi-hobi yang dimilikinya. Cowok yang seneng main game final fantasy X dan main gitar ini juga sering menulis yang berkaitan dengan lagu-lagu yang saat itu berhubungan dengan suasana hatinya. Misalnya dengan postingannya tentang heaven-knows dan piece-of-me.

Cowok yang dijuluki sama temen-temennya sebagai “Strange /Weird” ini juga suka memposting tentang pengetahuan umum. Misalnya tentang nazca lines. Selain itu, Ace juga senang membuat review-review tentang game-game yang dimainkannya, misalnya saja baru-baru ini tentang Final Fantasy X.

Cowok single ini pernah mengalami mimpi aneh yang berhubungan antara dirinya dengan seseorang yang sangat penting dengan dirinya lo! Kejadiannya cukup mendebarkan, sedikit aneh, dan kocak. Kamu bisa membacanya lebih lanjut di http://ace-forever.blogspot.com/2009/05/what-strange-dream.html.

Kamu bisa membuka profile dari Ace dari Friendster, Facebook dan Myspace dengan menggunakan alamat e-mailnya di Ace3889@gmail.com, atau membuka multiply nya di Ace3889@yahoo.com.


Ace berhak menaruh badge ini di halaman pribadinya.



Read More......
gravatar

Noviaji Joko Priono


Namanya Noviaji Joko Priono. Biasanya doi dipanggil Joko, Novi, atau Aji. Joko adalah pemilik dari sebuah blog - yang ketika review ini ditulis – bertajuk “langkah-langkah hijau”. Alamat dari blognya adalah http://noviaji14.blogspot.com. Joko pertama kali menulis di blognya pada tanggal 8 Agustus 2008. Postingannya yang pertama bisa kamu baca di http://noviaji14.blogspot.com/2008/11/about-me.html. Sebenarnya blog “langkah-langkah hijau” bukan blog pertama dari Joko, namun dia lebih aktif disini.

Penyuka telur ayam ½ matang dan jus alpukat ini bertempat tinggal di Jalan Gunung Arjuno X No.454 RT.47 RW.08 Baamang,Sampit. Cita-cita Joko mulia lo! Katanya dia kepengen menjadi seorang pengajar. Dia punya keinginan setelah lulus SMA mengambil kuliah jurusan TI (Teknik Informatika) Hardware.

Pencinta browsing di internet ini punya segudang prestasi yang patut diacungi jempol. Diantaranya pernah menjuarai lomba karya tulis tingkat kabupaten, menjadi juara II OSN Fisika tingkat kabupaten, bahkan ketika masih balita, Joko juga terpilih menjadi balita sehat

Joko punya impian besar yang nggak main-main lo! Dia berkeinginan menjadi komandan upacara pada peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara.

Sst... Joko juga udah punya visi dan misi-nya sendiri. Visi Joko adalah membangun jiwa-jiwa kepemudaan yang punya semangat juang dan beretos kerja tinggi. Dia juga mempunyai misi Menjalankan dan mengajak pemuda pemudi lain untuk dapat menjalin kerjasama dan komunikasi dengan pemuda pemudi lain
Penghuni dari kelas XI IPA 2 ini sekarang sedang aktif di keorganisasian OSIS. Dia menjabat sebagai ketua II. Penjelajah di Facebook ini juga aktif di geng kelasnya yang memiliki nama PePaChi.



Joko berhak menaruh badge ini di halaman pribadinya.

Read More......
gravatar

ditagiri|review

Entah kenapa waktu lagi bersemedi di toilet tiba-tiba kepikiran ini ;-p

ditagiri akan membuat sebuah tema khusus, yaitu me-review orang-orang yang sudah eksis di dunia maya. Entah itu kamu yang hobi di facebook, friendster, blog, multiply, maupun forum-forum. Review orang tersebut berdasarkan data diri yang didapat dan diberikan di tempat dimana dia berkecimpung di dunia maya. Bagi yang sudah di review dapat menaruh badge “i reviewed by ditagiri” di data diri yang dia mau (boleh blog, friendster, facebook, dll) seperti yang ada di bawah ini :






Atas kerjasamanya saya ucapkan terimakasih :-)


DitaGiri



Read More......

wall



ShoutMix chat widget